LIPUTAN KHUSUS SRAGEN — Upaya Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirto Negoro Sragen untuk meredam penolakan warga terkait rencana pengeboran sumur di Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan, berujung buntu. Sosialisasi yang digelar di Balai Desa Banaran, Senin (13/04/2026), justru menegaskan sikap tegas warga yang menolak program tersebut.
Acara yang dihadiri warga RT 18 dan RT 19 Dusun Sundo Asri, perangkat desa, serta jajaran PDAM ini dimaksudkan untuk membuka ruang dialog.
Namun, sejak awal, warga sudah menyuarakan kekhawatiran atas dampak yang ditimbulkan dari pengeboran sumur dalam.
Kepala Desa Banaran, Susilo, mengungkapkan bahwa pihaknya tidak menerima pemberitahuan resmi sebelumnya dari PDAM terkait rencana tersebut. Ia kemudian berinisiatif memfasilitasi mediasi antara warga dan pihak PDAM.
“Sosialisasi ini adalah bentuk niat baik agar komunikasi berjalan lebih terbuka. Pemerintah desa hanya sebagai mediator, tidak memiliki kepentingan dalam program ini. Kami ingin memastikan aspirasi warga benar-benar didengar,” ujar Susilo.
Sementara itu, Direktur PDAM Tirto Negoro Sragen, Hanindyo Heru Prayitno, menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan sosialisasi. Ia mengakui bahwa sebelumnya komunikasi hanya dilakukan melalui ketua RT tanpa melibatkan pemerintah desa maupun warga secara luas.
Hanindyo menyatakan pihaknya siap mempertimbangkan aspirasi masyarakat, termasuk potensi dampak lingkungan. Ia juga menawarkan sejumlah solusi, seperti pembangunan sumur resapan sebagai langkah mitigasi, hingga membuka peluang kerja bagi pemuda setempat.
Namun, penjelasan tersebut tidak cukup meredam penolakan warga. Mereka menilai risiko yang ditimbulkan jauh lebih besar, terutama ancaman kekeringan sumur warga serta beban biaya air PDAM yang dinilai mahal.
Perwakilan warga, Santoso, dengan tegas menyampaikan sikap kolektif masyarakat.
“Mohon maaf, saya dan warga di sini sepakat menolak adanya sumur PDAM di desa kami,” tegasnya, yang langsung disambut seruan serempak warga, “Betul, kami menolak.”Menutup sesi tanya jawab sekaligus acara.
Sosialisasi pun berakhir tanpa kesepakatan. Warga Dusun Sundo Asri tetap bersikukuh menolak rencana pengeboran sumur, sementara PDAM Tirto Negoro Sragen dihadapkan pada tantangan untuk mencari alternatif lain dalam upaya meningkatkan pasokan air bersih di wilayah tersebut.
Situasi ini menegaskan pentingnya pendekatan partisipatif dan transparansi sejak awal dalam setiap program pembangunan, khususnya yang bersinggungan langsung dengan kebutuhan dasar dan lingkungan hidup masyarakat.
Jurnalis Hendri S

Social Header