Breaking News

Kerajinan Tanduk Boyolali Mendunia, UMKM Lereng Merbabu Ekspor hingga Jepang


LIPUTAN KHUSUS BOYOLALI – Di lereng Gunung Merbabu, tepatnya di Dukuh Urutsewu, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, sebuah kerajinan tradisional terus bertahan dan berkembang di tengah modernisasi. Limbah tanduk sapi dan kerbau di tangan para perajin setempat disulap menjadi aneka produk bernilai tinggi yang kini menembus pasar internasional, termasuk Jepang.

Salah satu pelaku usaha yang masih konsisten melestarikan kerajinan ini adalah Naryoto, 63. Di rumah produksinya, ia mengolah tanduk menjadi berbagai barang fungsional dan bernilai seni, seperti alat kerokan, sisir, centong nasi, pipa rokok, cerutu, gelang, penggaruk punggung, gelas sloki, hingga gua sha.

"Harga produk mulai dari Rp10.000 hingga Rp100.000 per buah, tergantung jenis dan tingkat kesulitannya," ujar Naryoto, Kamis (23/4/2026).

Beragam produk tersebut memiliki pasar yang luas. Alat kerokan menjadi salah satu produk terlaris dengan penjualan mencapai 700 hingga 800 buah per bulan. Sementara itu, pipa rokok mampu terjual hingga 1.000 buah setiap bulan, disusul centong nasi sekitar 500 buah.

Tak hanya melayani pasar lokal, produk kerajinan tanduk asal Boyolali ini juga rutin dikirim ke berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. Jepang menjadi salah satu negara tujuan ekspor yang terus memberikan permintaan stabil.

Usaha yang telah diwariskan turun-temurun sejak zaman kakeknya itu kini menjadi salah satu ikon UMKM Desa Urutsewu. Naryoto sendiri mulai serius menekuni usaha keluarga tersebut sejak 2010, setelah sebelumnya bekerja di sektor jasa perjalanan.

"Saya ingin menjaga warisan leluhur agar tetap hidup. Harapannya, generasi muda juga tertarik untuk meneruskan kerajinan ini," katanya.

Keunggulan kerajinan tanduk terletak pada bahan alaminya. Selain ramah lingkungan, tanduk memiliki karakter unik yang dapat dilunakkan dengan panas sehingga mudah dibentuk tanpa kehilangan kekuatannya.

Dalam sebulan, kebutuhan bahan baku mencapai sekitar satu ton. Tanduk sapi diperoleh dari wilayah Boyolali, sedangkan tanduk kerbau didatangkan dari berbagai daerah, seperti Kalimantan Timur, Aceh, Makassar, hingga Sumatera Barat.

Saat ini, Naryoto dibantu tujuh pekerja, meski sebagian besar masih bekerja paruh waktu karena memiliki profesi utama sebagai petani maupun buruh pabrik.

Kepala Desa Urutsewu, Sri Haryanto, mengatakan kerajinan tanduk menjadi salah satu sektor unggulan desa. Dengan lebih dari 100 pelaku UMKM, pemerintah desa terus mendorong pengembangan usaha untuk membuka lapangan kerja baru.

"Kerajinan tanduk ini sudah ada sejak lama dan menjadi kebanggaan desa. Kami berharap semakin banyak anak muda yang tertarik mengembangkan potensi lokal ini," ujarnya.

Keberhasilan kerajinan tanduk Boyolali menembus pasar ekspor membuktikan bahwa produk tradisional lokal mampu bersaing di pasar global, sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat di lereng Merbabu.

Jurnalis hendri S
© Copyright 2022 - LIPUTANKHUSUS.ID