LIPUTAN KHUSUS KUDUS — Kondisi bangunan SMP Negeri 2 Bae, Kabupaten Kudus, menjadi sorotan setelah video yang memperlihatkan kerusakan bagian bangunan sekolah diunggah ke media sosial oleh kepala sekolah.
Video tersebut diunggah pada Minggu (4/10/2026) dan kemudian viral serta menjadi perbincangan publik.
Kepala SMP Negeri 2 Bae, Yusro, mengakui dirinya sengaja mengunggah kondisi sekolah tersebut lantaran hingga kini masih menunggu kepastian tahapan perbaikan.
Berdasarkan pemberitaan sejumlah media, kondisi yang disorot antara lain bagian atap dan plafon ruang guru yang mengalami kerusakan. Yusro menyebut pihak sekolah sebelumnya telah mengikuti proses verifikasi dan menunggu tahapan berikutnya terkait program revitalisasi.
Yusro mengatakan kondisi sekolah sebenarnya sudah difasilitasi oleh pihak dinas dan dikawal pemerintah pusat. Namun, pihak sekolah masih menunggu proses lanjutan, termasuk undangan bimbingan teknis untuk program yang berkaitan dengan anggaran tambahan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus, Anggun Nugroho, membenarkan bahwa kondisi bangunan SMP Negeri 2 Bae memang mengalami kerusakan.
Namun, menurutnya, sekolah tersebut sebenarnya sudah masuk dalam daftar sekolah yang mengikuti tahapan program revitalisasi pemerintah pusat.
"Kalau SMP 2 Bae itu sebenarnya sudah masuk dalam daftar sekolah yang mengikuti Zoom dengan Kemendikdasmen untuk pengalokasian program revitalisasi," ujar Anggun, Senin (5/10/2026).
Menurut Disdikpora, proses revitalisasi tidak serta-merta dilakukan setelah muncul keluhan di media sosial. Program tersebut melalui tahapan pendataan dan verifikasi. Status kerusakan bangunan sekolah juga tercatat melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
Disdikpora menjelaskan bahwa sekolah dengan kondisi bangunan rusak sedang maupun berat dapat masuk dalam usulan program revitalisasi pemerintah pusat berdasarkan data yang tersedia.
Selain SMP Negeri 2 Bae, sejumlah sekolah lain di Kudus juga disebut telah mengikuti tahapan serupa.
Meski demikian, Disdikpora berencana kembali menerjunkan tim sarana dan prasarana untuk melihat langsung kondisi sekolah dan memastikan langkah antisipasi terhadap kerusakan tersebut.
"Memastikan antisipasi awalnya seperti apa, sehingga dalam kondisi darurat nanti apa yang bisa kita lakukan," kata Anggun.
Disdikpora juga mengingatkan kepala sekolah agar mengikuti mekanisme pelaporan kerusakan bangunan sekolah. Untuk kerusakan yang lebih berat dan tidak dapat ditangani menggunakan anggaran sekolah, pihak sekolah dapat bersurat kepada dinas dengan melampirkan dokumentasi kondisi bangunan.
Persoalan sekolah rusak di Kudus sebenarnya bukan persoalan baru.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Kudus melalui Disdikpora mengalokasikan sekitar Rp13 miliar untuk memperbaiki 47 sekolah yang mengalami kerusakan pada 2026.
Dari 47 sekolah tersebut, tujuh merupakan SMP dan 40 lainnya merupakan SD. Perbaikan meliputi ruang kelas, perpustakaan, toilet, jamban, serta infrastruktur lain yang melekat pada bangunan sekolah.
Pemerintah Kabupaten Kudus menargetkan pekerjaan perbaikan tersebut mulai dikerjakan pada September 2026 dengan durasi pekerjaan sekitar 120 hari.
Di luar program yang dibiayai APBD, terdapat pula sekolah yang masuk program revitalisasi pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kerusakan sekolah di Kudus masih membutuhkan penanganan bertahap, sementara sekolah juga harus memastikan keselamatan siswa, guru, dan tenaga kependidikan selama proses perbaikan belum selesai.
Viralnya video SMP Negeri 2 Bae kini menjadi perhatian publik. Di satu sisi, kepala sekolah menyampaikan kondisi nyata bangunan yang membutuhkan penanganan. Di sisi lain, pemerintah daerah menyatakan proses revitalisasi sudah berjalan melalui tahapan administrasi dan verifikasi.
Publik kini menunggu bagaimana tindak lanjut pemerintah terhadap kondisi bangunan tersebut agar proses belajar mengajar tetap berlangsung aman dan tidak sampai menunggu kerusakan menjadi lebih parah.
Jurnalis Hendri S

Social Header