Breaking News

Merah Putih Berkibar di Sritex, Pesangon Eks Buruh Masih Menggantung

LIPUTAN KHUSUS SUKOHARJO — Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di kompleks PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), Sukoharjo, Senin (17/8/2026), berlangsung dengan suasana berbeda. Di tengah berkibarnya Merah Putih dan khidmatnya upacara kemerdekaan, ratusan eks karyawan Sritex kembali menyuarakan persoalan yang belum juga tuntas: hak pesangon yang hingga kini belum mereka terima.

Bagi para mantan pekerja, peringatan kemerdekaan tahun ini bukan sekadar seremoni. Di tempat yang dahulu menjadi sumber penghidupan ribuan buruh itu, mereka kembali mengingatkan bahwa perjuangan belum berakhir.

Ketua Solidaritas sekaligus koordinator aksi, Agus Wicaksono, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kecintaan terhadap Indonesia sekaligus momentum untuk menyampaikan aspirasi para eks buruh Sritex.

 “Kami tetap mencintai Indonesia. Tetapi kami juga ingin hak-hak kami sebagai pekerja diselesaikan,” ujar Agus.

Menurutnya, persoalan pesangon masih menjadi beban bagi banyak eks karyawan. Mereka kini menunggu proses pemberesan aset perusahaan yang diharapkan dapat menjadi jalan untuk menyelesaikan kewajiban kepada para pekerja.

Agus meminta kurator mempercepat proses pemberesan aset, sehingga pembayaran hak eks karyawan tidak terus berada dalam ketidakpastian.

Yang membuat perjuangan tersebut semakin berat, kata Agus, sebagian eks karyawan bahkan disebut telah meninggal dunia sebelum sempat menerima hak pesangonnya.

Kisah perjuangan itu salah satunya datang dari Indriyati (45). Selama 27 tahun, ia bekerja di Sritex. Puluhan tahun masa kerja tersebut kini hanya menyisakan kenangan sekaligus penantian atas hak yang belum diterima.

Setelah kehilangan pekerjaan, Indriyati harus mencari jalan lain untuk bertahan hidup. Kini ia berjualan es teler demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pesangon yang menjadi haknya disebut bernilai lebih dari Rp10 juta. Namun hingga peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, uang tersebut belum juga sampai ke tangannya.

Perubahan kehidupan itu menggambarkan betapa panjang dampak yang dirasakan para pekerja setelah perusahaan berhenti beroperasi.

Dulu mereka datang ke kompleks Sritex untuk bekerja dan menerima upah. Kini sebagian dari mereka justru kembali ke tempat yang sama untuk menagih kepastian atas hak yang telah mereka perjuangkan selama bertahun-tahun.

Berkibarnya Merah Putih di kompleks Sritex hari itu menjadi simbol yang memiliki makna berbeda bagi para eks buruh.

Bendera kemerdekaan berkibar di atas kawasan perusahaan yang pernah menjadi salah satu pusat industri tekstil besar di Indonesia. Namun di bawah kibaran Merah Putih tersebut, masih ada para mantan pekerja yang menunggu penyelesaian hak mereka.

Bagi mereka, kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga tentang terbebas dari ketidakpastian, memperoleh kepastian hukum, dan menerima hak yang menjadi bagian dari perjuangan selama bekerja.

Kini perhatian mereka tertuju pada proses pemberesan aset perusahaan dan keputusan yang akan menentukan nasib pesangon para eks karyawan.

Jurnalis Hendri S
© Copyright 2022 - LIPUTANKHUSUS.ID