Breaking News

Tipudaya Berkedok HAJI PLUS! Lansia Karanganyar Kehilangan Rp104 Juta, Keberangkatan Tak Pernah Terwujud


LIPUTAN KHUSUS KARANGANYAR – Niat suci untuk menunaikan ibadah haji justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Sri Wijiningsih (61), warga Perum Klodran Indah, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar. Uang lebih dari Rp104 juta yang dikumpulkan dengan susah payah selama bertahun-tahun lenyap, sementara keberangkatan haji yang dijanjikan tak pernah menjadi kenyataan.

Dengan mata berkaca-kaca, Sri menceritakan bagaimana dirinya tergiur tawaran program haji plus yang disebut lebih cepat dan lebih murah dibanding jalur reguler. Tawaran itu datang dari seorang perempuan berinisial DF pada akhir tahun 2024.

Karena ingin memberikan kejutan kepada keluarga, Sri memilih menyimpan rapat rencana keberangkatannya. Ia diam-diam menabung dan mengumpulkan dana dari berbagai sumber, termasuk santunan kematian, dana Asabri, serta gaji peninggalan almarhum suaminya.

"Saya hidup sangat hemat. Semua saya kumpulkan demi bisa berangkat ke Tanah Suci," ungkapnya.

Selama berbulan-bulan, Sri melakukan transfer dana secara bertahap hingga 14 kali. Pada Mei 2025, pembayaran dinyatakan lunas dengan total mencapai Rp104,3 juta.

Kepercayaan Sri semakin kuat karena DF disebut memiliki keterkaitan dengan biro perjalanan umrah yang pernah dikenalnya. Selain itu, sikap yang ramah dan meyakinkan membuat dirinya tidak menaruh kecurigaan sedikit pun.

Bahkan menjelang waktu keberangkatan, Sri telah menerima seragam haji dan mulai menyiapkan berbagai perlengkapan untuk perjalanan spiritual yang selama ini diimpikannya.

Namun harapan itu perlahan runtuh.

Paspor, visa, dan tiket pesawat yang dijanjikan tak kunjung diterima. Setiap kali ditanyakan, alasan yang diberikan selalu berubah-ubah. Kegelisahan Sri berubah menjadi kepanikan setelah mendengar ada calon jamaah lain yang mengalami nasib serupa.

Puncaknya, keberangkatan yang dijanjikan sama sekali tidak terlaksana.

Lebih menyakitkan lagi, dari total uang yang telah disetorkan, Sri mengaku baru menerima pengembalian sekitar Rp1,3 juta. Sisanya belum kembali hingga kini.

Berbagai upaya penyelesaian secara kekeluargaan maupun mediasi telah dilakukan. Namun semua jalan yang ditempuh tidak menghasilkan titik terang.

Merasa tidak memiliki pilihan lain, Sri akhirnya melaporkan kasus tersebut ke Polresta Solo dan berharap ada kejelasan hukum atas peristiwa yang dialaminya.

Meski menjadi korban kerugian ratusan juta rupiah, Sri mengaku tidak menyimpan kebencian kepada pihak yang dilaporkannya. Ia hanya berharap uangnya dapat kembali dan tidak ada korban lain yang mengalami nasib serupa.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat, khususnya para lansia, agar tidak mudah tergiur tawaran perjalanan ibadah dengan janji keberangkatan cepat dan biaya murah tanpa memastikan legalitas serta kejelasan penyelenggaranya.

Di balik kerugian besar yang dialaminya, Sri masih menyimpan satu harapan yang belum padam.

Impian untuk menapakkan kaki di Tanah Suci masih tetap hidup.

"Saya hanya ingin beribadah. Mudah-mudahan suatu saat Allah masih memberi kesempatan," tuturnya lirih.

Kini, yang tersisa bukan hanya kerugian materi. Tetapi juga luka batin seorang lansia yang berharap bisa memenuhi panggilan suci ke Baitullah, namun justru harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan tabungan hidupnya.

Jurnalis Hendri S
© Copyright 2022 - LIPUTANKHUSUS.ID