LIPUTAN KHUSUS BOYOLALI — Kesabaran warga Kecamatan Sawit akhirnya mencapai batas. Bertahun-tahun menghadapi jalan rusak yang membahayakan nyawa pengguna jalan, warga di ruas Kemasan–Jatirejo memilih melakukan aksi protes dengan cara yang unik namun penuh makna: menanam pohon pisang di tengah jalan berlubang.
Aksi yang dilakukan pada Minggu (14/6/2026) itu menjadi simbol kekecewaan masyarakat terhadap lambannya penanganan infrastruktur oleh pemerintah daerah. Pohon pisang sengaja ditanam di titik-titik kerusakan parah sebagai penanda sekaligus peringatan bagi pengendara agar tidak menjadi korban berikutnya.
Meski keesokan harinya pohon-pohon tersebut dipindahkan ke pinggir jalan, pesan yang ingin disampaikan warga sudah terlanjur menggema.
Ruas Kemasan-Jatirejo bukan jalan sepi. Jalur ini menjadi akses penting bagi warga Kemasan, Jatirejo, hingga Manjung serta menjadi penghubung kawasan Sawit menuju Banyudono.
Namun kondisi jalan saat ini jauh dari layak. Lubang-lubang besar menganga hampir di sepanjang ruas jalan. Pengendara motor terpaksa bermanuver menghindari lubang atau mengurangi kecepatan secara mendadak.
Seorang warga mengaku telah puluhan kali menolong korban kecelakaan di lokasi tersebut.
"Saya kira-kira sudah 50 kali menolong orang jatuh di sini. Kebanyakan perempuan yang naik motor. Mereka kaget ada lubang lalu refleks mengerem depan," ungkapnya.
Pernyataan itu menjadi gambaran nyata bahwa kerusakan jalan bukan lagi sekadar persoalan kenyamanan, melainkan telah menjadi ancaman keselamatan masyarakat.
Karena tak kunjung diperbaiki, warga beberapa kali melakukan penambalan jalan secara swadaya menggunakan material seadanya.
Namun upaya tersebut hanya mampu bertahan sementara. Lubang kembali muncul dan semakin melebar akibat tingginya volume kendaraan yang melintas.
Saat musim hujan, kondisi menjadi lebih mengkhawatirkan. Genangan air menutupi lubang sehingga pengendara tidak dapat memperkirakan kedalaman kerusakan jalan.
"Kalau hujan jauh lebih berbahaya karena lubangnya tidak kelihatan," kata Kusnadi, warga setempat.
Ironisnya, salah satu penyebab utama kerusakan jalan diduga berasal dari lalu lalang truk bermuatan berat pengangkut material proyek pembangunan Tol Solo–Jogja.
Jalan yang awalnya digunakan masyarakat setempat kini menjadi jalur alternatif kendaraan proyek dengan tonase tinggi. Akibatnya, badan jalan mengalami kerusakan lebih cepat.
Masyarakat menilai mereka menjadi pihak yang harus menanggung dampak pembangunan, sementara perbaikannya justru belum mendapat kepastian.
Di tengah keluhan warga yang terus meningkat, DPUPR Boyolali menyatakan perbaikan jalan belum dapat dilakukan dalam waktu dekat karena keterbatasan anggaran.
Pemkab Boyolali disebut baru mengusulkan anggaran perbaikan pada pembahasan tahun 2027.
Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat: berapa banyak lagi korban yang harus berjatuhan sebelum jalan ini benar-benar diperbaiki?
Jalan rusak bukan sekadar persoalan infrastruktur. Di balik setiap lubang terdapat risiko kecelakaan, kerugian ekonomi, hingga potensi hilangnya nyawa pengguna jalan.
Aksi tanam pohon pisang yang dilakukan warga Kemasan dan Jatirejo bukan sekadar bentuk protes. Itu adalah jeritan masyarakat yang merasa suaranya belum didengar.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin jalan yang seharusnya menjadi sarana penghubung justru berubah menjadi titik rawan kecelakaan yang terus memakan korban.
Jurnalis Hendri S

Social Header