Breaking News

SOP atau Kurang Empati? Polemik Ambulans RSUD Wonogiri Jadi Sorotan Publik


LIPUTAN KHUSUS WONOGIRI – Sebuah video yang memperlihatkan keluhan warga terhadap layanan ambulans RSUD Soediran Mangun Sumarso (SMS) Wonogiri mendadak viral dan memicu perdebatan di tengah masyarakat. Dalam rekaman yang beredar luas di media sosial, seorang pria mempertanyakan keberadaan sejumlah ambulans yang terparkir di rumah sakit namun disebut tidak dapat digunakan untuk mengantar pasien rujukan.

Video tersebut langsung memantik kritik publik. Banyak warga mempertanyakan apakah prosedur pelayanan kesehatan telah berjalan sesuai prinsip kemanusiaan, terutama ketika pasien membutuhkan rujukan ke rumah sakit yang lebih lengkap.

Namun di balik viralnya video itu, Pemerintah Kabupaten Wonogiri memberikan penjelasan berbeda. Sekretaris Daerah Kabupaten Wonogiri, FX Pranata, menyatakan bahwa pasien yang dimaksud bukan berada dalam kondisi gawat darurat.

Menurut hasil pemeriksaan dokter jaga dan dokter spesialis, pasien anak tersebut diduga menelan benda menyerupai kelereng dan memang membutuhkan penanganan lanjutan di RSUD Dr Moewardi Solo. Akan tetapi kondisi pasien dinilai stabil sehingga tidak memenuhi kategori kegawatdaruratan yang mewajibkan penggunaan ambulans rumah sakit.

"Pasien diperbolehkan menggunakan moda transportasi apa pun karena tidak dalam kondisi darurat," jelas Pranata.

Pemkab juga menyebut keluarga pasien tidak mengajukan permohonan penggunaan ambulans melalui mekanisme yang berlaku. Kondisi inilah yang menjadi dasar mengapa ambulans rumah sakit tidak digunakan saat proses rujukan berlangsung.

Kasus ini memunculkan pertanyaan yang lebih luas. Di mata masyarakat awam, keberadaan ambulans yang tampak terparkir sementara pasien harus mencari transportasi sendiri menimbulkan kesan pelayanan yang kurang responsif.

Di sisi lain, pihak rumah sakit berpegang pada standar operasional prosedur (SOP) yang membedakan antara pasien gawat darurat dan pasien non-darurat.

Perbedaan sudut pandang inilah yang akhirnya memicu kesalahpahaman hingga menjadi konsumsi publik melalui media sosial.

Bagi masyarakat, ambulans sering dipandang sebagai simbol bantuan medis yang sewajarnya dapat digunakan ketika pasien harus dirujuk. Namun bagi institusi pelayanan kesehatan, penggunaan ambulans memiliki aturan, prioritas, serta konsekuensi administratif yang harus dipatuhi.

Setelah video viral, Pemerintah Kabupaten Wonogiri bergerak cepat dengan mempertemukan pihak keluarga pasien dan manajemen rumah sakit dalam sebuah mediasi.

Hasilnya, kedua belah pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara baik-baik. Pasien juga telah mendapatkan penanganan di RSUD Dr Moewardi Solo. Benda yang tertelan berhasil dikeluarkan dan kondisi pasien kini dilaporkan sudah sehat serta kembali ke rumah.

Meski persoalan telah selesai, pemerintah daerah mengakui bahwa kejadian ini menjadi bahan evaluasi penting.

Kasus ini menunjukkan bahwa pelayanan publik tidak cukup hanya berpedoman pada SOP. Komunikasi kepada pasien dan keluarga juga menjadi faktor penting untuk mencegah munculnya kesalahpahaman.

Pemkab Wonogiri menyatakan akan mengevaluasi sistem pelayanan rujukan, termasuk kemungkinan penyempurnaan SOP agar lebih humanis tanpa mengabaikan aspek keselamatan pasien.

Selain itu, edukasi kepada masyarakat mengenai prosedur penggunaan ambulans dan mekanisme rujukan juga dinilai perlu diperkuat.

Peristiwa ini menjadi pelajaran bahwa dalam pelayanan kesehatan, kepatuhan terhadap aturan harus berjalan seiring dengan komunikasi yang baik. Sebab, ketika informasi tidak tersampaikan dengan jelas, pelayanan yang sebenarnya sesuai prosedur pun dapat dipersepsikan berbeda oleh masyarakat.

Jurnalis Hendri S
© Copyright 2022 - LIPUTANKHUSUS.ID