LIPUTAN KHUSUS SOLO — Tradisi sakral Malam 1 Suro 1959 Jawa di Kota Solo kembali menjadi perhatian masyarakat. Tahun ini, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Pura Mangkunegaran akan menggelar Kirab Pusaka secara terpisah pada Selasa malam (16/6/2026) dengan jadwal serta rute yang berbeda.
Ribuan warga diperkirakan memadati sejumlah ruas jalan utama Kota Solo untuk menyaksikan prosesi budaya yang sarat nilai spiritual dan filosofi Jawa tersebut.
Juru bicara penanggung jawab Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan (Kanjeng Pakoenegoro), menyatakan seluruh persiapan kirab telah rampung dan pelaksanaan kegiatan dilakukan bersama Kementerian Kebudayaan.
"Yang jelas kirab dilaksanakan Selasa malam menjelang Rabu dini hari. Waktunya menyesuaikan dinamika di lapangan," ujarnya.
Pakoenegoro juga menegaskan dirinya bersikap netral dalam dinamika internal keraton dan hanya menjalankan tugas sebagai pelaksana kegiatan budaya.
Sementara itu, Pura Mangkunegaran akan lebih dahulu menggelar Kirab Pusaka Dalem Malam 1 Sura mulai pukul 20.00 WIB.
Ketua penyelenggara kirab, G.Raj Ancillasura Marina Sudjiwo (Gusti Sura), menyebut sekitar 2.500 peserta akan mengikuti prosesi tersebut.
Rute kirab dimulai dari Pura Mangkunegaran menuju kawasan Ngarsopuro, Jalan Slamet Riyadi, Jalan Kartini, Jalan RM Said, Jalan Teuku Umar, kemudian kembali melalui Jalan Diponegoro dan berakhir di Pura Mangkunegaran.
Tak hanya peserta kirab, sekitar 10.000 warga diperkirakan hadir untuk menyaksikan langsung prosesi budaya tahunan yang menjadi salah satu ikon Kota Solo tersebut.
Menurut Gusti Sura, Malam 1 Sura bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan momentum spiritual bagi masyarakat Jawa untuk melakukan introspeksi diri.
"Ini adalah ruang hening untuk melepaskan masa lalu, menjalani masa kini dengan penuh kesadaran, dan menyambut masa depan dengan harapan yang lebih baik," ujarnya.
Hingga kini, pihak Mangkunegaran masih menunggu arahan mengenai pusaka-pusaka yang akan dikeluarkan dalam kirab.
Dengan digelarnya dua kirab pusaka besar dalam satu malam, aparat keamanan dan panitia diharapkan melakukan pengaturan lalu lintas secara maksimal guna mengantisipasi kepadatan massa di sejumlah titik pusat Kota Solo.
Tradisi Malam 1 Suro sendiri merupakan salah satu warisan budaya Jawa yang masih lestari hingga saat ini. Selain menjadi simbol pergantian tahun dalam penanggalan Jawa, malam tersebut juga dipercaya sebagai momentum untuk memperkuat hubungan manusia dengan Sang Pencipta, alam semesta, dan sesama manusia.
"Malam hening penuh makna, ketika pusaka kembali diarak dan doa-doa dipanjatkan untuk menyambut lembaran baru perjalanan kehidupan."
Jurnalis Hendri S

Social Header