Breaking News

Kasus BMT BUS Blora Mencuat Lagi, Anggota Pertanyakan Amanah Pengurus,Dana Angota Rp4,2 Miliar Diduga Raib! Puluhan Korban Serbu Polisi


LIPUTAN KHUSUS BLORA – Gelombang laporan dugaan gagal bayar yang menyeret Koperasi BMT BUS terus membesar. Puluhan nasabah dari berbagai wilayah di Kabupaten Blora akhirnya memilih melapor ke polisi setelah tabungan dan deposito mereka tak kunjung bisa dicairkan. Total kerugian sementara disebut mencapai Rp4,22 miliar.

Koperasi yang berkantor pusat di Lasem itu diduga mulai bermasalah sejak 2023. Para nasabah mengaku berulang kali dijanjikan pencairan dana, namun hingga kini realisasinya tak kunung jelas.

Salah satu korban, Wijianto, saat ditemui di Dokpol Klinik Polres Blora, mengungkapkan para nasabah mulai kesulitan menarik dana sejak awal 2023. Situasi makin memanas setelah pihak koperasi menutup buku di akhir tahun yang sama.

“Waktu itu dijanjikan pengembalian dana maksimal tiga tahun. Tapi sampai sekarang belum ada kejelasan,” ujarnya.

Korban tersebar di sejumlah wilayah seperti Blora Kota, Randublatung, Cepu, Ngawen hingga Kunduran. Dari pendataan sementara, tercatat sekitar 42 nasabah menjadi korban dengan nominal kerugian bervariasi, mulai Rp100 juta hingga lebih dari Rp1 miliar.

Ironisnya, dana yang tersimpan dalam bentuk tabungan maupun deposito itu kini nyaris tak bisa disentuh pemiliknya sendiri.

Wijianto mengaku mengalami kerugian paling besar, mencapai Rp1,248 miliar. Dana tersebut disimpan sejak 2022. Namun selama bertahun-tahun, ia hanya bisa menarik Rp500 ribu.

“Pernah ambil cuma Rp500 ribu dari simpanan lebih dari Rp1 miliar pada tahun 2024,” katanya dengan nada kecewa.

Harapan para nasabah sempat muncul saat Rapat Anggota Tahunan (RAT) pada 2024 di Lasem, Rembang. Dalam forum itu, pengurus kembali menjanjikan pengembalian dana dalam kurun waktu tiga tahun. Namun setelah pertemuan tersebut, komunikasi dengan para pengurus disebut terputus.

“Sekarang sudah lost contact. Kantor-kantor cabangnya juga tidak jelas operasionalnya,” imbuhnya.

Di Kabupaten Blora, kantor cabang BMT BUS diketahui berada di kawasan Cepu, kemudian di Blora tepat di samping Laboratorium Patra Medica. Sementara di Kecamatan Ngawen berada di dekat SPBU. Meski bangunan kantor masih berdiri, aktivitas operasional disebut nyaris tidak terlihat.

Para korban kini mulai melaporkan sejumlah nama pengurus yang tercantum dalam akta notaris. Di antaranya Ketua Umum Abdullah Yazid, Ketua I Muhammad Yuson Rusdiono, Zulkifli Lubis, M Fakih Zuhdi, Sekretaris Rahmad, serta Bendahara Mujianto.

Kasus ini mulai menyita perhatian publik karena nilai kerugian yang fantastis dan banyaknya nasabah yang diduga menjadi korban. Para korban berharap aparat penegak hukum segera turun tangan mengusut aliran dana serta meminta pertanggungjawaban pengurus koperasi.

Jurnalis Hendri S
© Copyright 2022 - LIPUTANKHUSUS.ID