LIPUTAN KHUSUS BOYOLALI – Suasana berbeda terasa di lereng Merapi–Merbabu, tepatnya di Desa Sruni Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, Sabtu (28/3/2026). Lebaran Ketupat tahun ini tak sekadar menjadi tradisi tahunan, tetapi menjelma menjadi perayaan penuh warna yang memikat perhatian warga hingga pengunjung dari berbagai daerah.
Di sepanjang jalan desa, hamparan tikar membentang rapi. Ratusan warga duduk bersila, menyatu tanpa sekat, menikmati hidangan ketupat dan aneka lauk dalam suasana hangat penuh kekeluargaan. Tawa anak-anak, obrolan ringan orang tua, hingga aroma masakan tradisional berpadu menjadi harmoni yang menghadirkan nuansa khas pedesaan yang begitu dirindukan.
Tak hanya itu, arak-arakan sapi menjadi daya tarik utama. Sapi-sapi yang dihias dengan ornamen warna-warni diarak keliling desa, diiringi gunungan hasil bumi yang menjulang tinggi, berisi sayuran segar, buah-buahan, hingga hasil pertanian warga. Pemandangan ini menjadi simbol nyata kemakmuran sekaligus rasa syukur masyarakat Musuk.
Tradisi ini berakar dari budaya sedekah bumi, sebagai ungkapan terima kasih atas limpahan hasil pertanian dan peternakan. Dikenal sebagai wilayah penghasil ternak, masyarakat Musuk menjadikan sapi bukan hanya sebagai sumber ekonomi, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang dijaga turun-temurun.
Prosesi berlangsung khidmat saat doa bersama dipanjatkan. Warga berharap keselamatan, keberkahan, serta rezeki yang terus mengalir bagi desa mereka. Setelah itu, suasana berubah meriah ketika gunungan hasil bumi diperebutkan. Warga percaya, siapa yang mendapatkan bagian akan memperoleh berkah.
Lebaran Ketupat sendiri memiliki makna mendalam. Ketupat bukan sekadar makanan, tetapi simbol pengakuan kesalahan dan harapan kembali suci setelah Ramadan. Ketika tradisi ini berpadu dengan arak-arakan sapi dan gunungan hasil bumi, terciptalah sebuah perayaan yang bukan hanya religius, tetapi juga sarat nilai budaya dan sosial.
Perpaduan antara spiritualitas dan kearifan lokal inilah yang menjadikan tradisi di Musuk begitu istimewa. Bukan sekadar acara seremonial, melainkan momentum yang mempererat persaudaraan, menjaga warisan leluhur, sekaligus membuka potensi wisata budaya yang memikat.
Di tengah arus modernisasi, Musuk membuktikan bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan. Justru, dengan sentuhan kebersamaan dan semangat gotong royong, budaya lokal mampu tampil memukau, menjadi kebanggaan sekaligus daya tarik yang layak dikenal lebih luas.
Lebaran Ketupat di Musuk bukan hanya tentang perayaan. Ia adalah cerita tentang rasa syukur, kebersamaan, dan cinta terhadap warisan budaya yang terus hidup di hati masyarakatnya.
Jurnalis : Hendri S

Social Header